Anda berdebat tentang siapa yang harus mencuci piring. Argumen yang adil menggunakan fakta dan rasa hormat. Kata-kata “berdebat, argumen, argumentatif, diperdebatkan” semuanya berasal dari satu keluarga. Masing-masing kata berbicara tentang ketidaksepakatan atau berdiskusi dengan alasan. Tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam sebuah kalimat. Mempelajari keluarga ini membantu anak-anak mengekspresikan perbedaan dengan cara yang sehat. Mari kita jelajahi keempat kata ini bersama-sama.
Apa Maksud dari “Kata yang Sama, Bentuk yang Berbeda”? Satu gagasan inti dapat berkembang menjadi banyak bentuk kata. Maknanya tetap sama pada intinya. Tetapi kata tersebut mengubah akhirnya untuk peran baru. Misalnya, “berdebat” adalah kata kerja. “Argumen” adalah kata benda. “Argumentatif” adalah kata sifat. “Diperdebatkan” adalah bentuk kata kerja (lampau). Mengetahui keempat bentuk ini membantu seorang anak berbicara tentang perselisihan dan perdebatan.
Kata Ganti Orang Mengubah Bentuknya Kata ganti berubah dari “dia” menjadi “dia” atau “miliknya”. Keluarga kata kita berubah dengan menambahkan akhiran, bukan dengan mengubah orang. Pikirkan “berdebat” sebagai tindakan inti untuk mengungkapkan ketidaksepakatan. “Argumen” mengubah tindakan itu menjadi suatu hal. “Argumentatif” mengubah kualitas menjadi deskripsi. “Diperdebatkan” mengubah tindakan menjadi masa lalu. Masing-masing bentuk menjawab pertanyaan sederhana. Tindakan apa? Berdebat. Apa ketidaksepakatannya? Argumen. Apa yang menggambarkan seseorang yang suka berdebat? Argumentatif. Apa yang terjadi di masa lalu? Diperdebatkan.
Dari Kata Kerja ke Kata Benda ke Kata Sifat ke Kata Keterangan – Satu Keluarga, Banyak Kata Keluarga ini memiliki kata kerja, kata benda, kata sifat, dan bentuk kata kerja. Mari kita mulai dengan kata kerja “berdebat”. Kata Kerja: Tolong jangan berdebat tentang hal-hal kecil. “Berdebat” berarti tidak setuju menggunakan kata-kata.
Berikutnya adalah kata benda “argumen”. Kata Benda: Argumen mereka berlangsung selama sepuluh menit. “Argumen” berarti ketidaksepakatan atau alasan yang diberikan.
Kemudian kata sifat “argumentatif”. Kata Sifat: Dia sangat argumentatif sehingga dia akan memperdebatkan apa pun. “Argumentatif” berarti cenderung banyak berdebat.
Terakhir kata “diperdebatkan”. Kata Kerja (lampau): Para saudari berdebat tentang remote TV.
Akar yang Sama, Banyak Peran – Bagaimana Kata-Kata Tumbuh dari Tindakan menjadi Kualitas Kata Latin “arguere” berarti memperjelas atau menuduh. Dari akar ini, kami membangun sebuah keluarga tentang perselisihan. “Berdebat” mempertahankan arti kata kerja utama. Menambahkan -ment membuat “argumen” (hasilnya). Menambahkan -ative membuat “argumentatif” (cenderung berdebat). Menambahkan -ed membuat “diperdebatkan” (masa lalu). Anak-anak dapat melihat pola yang sama dalam keluarga lain. Misalnya “debat, debat (kata benda), dapat diperdebatkan, diperdebatkan”. Mempelajari akhiran -ative membantu anak-anak menggambarkan kepribadian.
Makna yang Sama, Peran yang Berbeda – Apakah Itu Kata Kerja atau Kata Benda? Perhatikan dengan cermat peran masing-masing kata. “Berdebat” adalah kata kerja. Contoh: Jangan berdebat dengan sopir bus.
“Argumen” adalah kata benda. Contoh: Argumennya adalah tentang game mana yang akan dimainkan.
“Argumentatif” adalah kata sifat. Contoh: Orang yang argumentatif sering memulai perkelahian.
“Diperdebatkan” adalah bentuk kata kerja (lampau). Contoh: Kami berdebat tentang aturan sebelum pertandingan dimulai. Masing-masing bentuk memiliki peran yang jelas.
Kata Sifat dan Kata Keterangan – Kapan Kita Menambahkan -ly? Kita dapat membuat kata keterangan dari “argumentatif”. Tambahkan -ly untuk mendapatkan “secara argumentatif”. Contoh: Dia berbicara secara argumentatif selama debat. Kita juga dapat membuat “dapat diperdebatkan” dari “berdebat” (akhiran yang berbeda). Untuk pelajar muda, fokuslah pada kata kerja dan kata benda. Peringatan sederhana: “Berdebat adalah tindakannya. Argumen adalah ketidaksepakatan. Argumentatif menggambarkan orang yang terlalu banyak berdebat. Diperdebatkan adalah masa lalu.”
Waspadalah terhadap Perubahan Ejaan yang Rumit (Huruf Ganda, y ke i, dan Lainnya) “Berdebat” diakhiri dengan e yang tidak bersuara. Tambahkan -ment untuk membuat “argumen”. Berdebat → argumen (hilangkan e, tambahkan ment). Tambahkan -ative untuk membuat “argumentatif”. Berdebat → argumentatif (hilangkan e, tambahkan mentative). Tambahkan -ed untuk membuat “diperdebatkan”. Berdebat → diperdebatkan (hilangkan e, tambahkan ed). Kesalahan umum adalah menulis “berdebat” sebagai “bergu” (kehilangan e). Katakan “Berdebat memiliki e yang tidak bersuara di akhir.” Kesalahan lain adalah “argumen” dieja “argumant” (dengan a). Katakan “Argumen memiliki e setelah u? A-R-G-U-M-E-N-T. Ya, sebuah e.” Kesalahan lain adalah “argumentatif” dieja “arguementative” (dengan e tambahan). Katakan “Argumentatif berasal dari argumen + ative.” Kesalahan lain adalah “diperdebatkan” dieja “arguied” (dengan i). Katakan “Diperdebatkan tidak memiliki i.”
Mari Berlatih – Bisakah Anda Memilih Bentuk yang Tepat? Coba kalimat-kalimat ini dengan anak Anda. Bacalah masing-masing dengan lantang. Pilih kata yang benar dari keluarga tersebut.
Tolong jangan ______ tentang aturan. Mari kita bicara dengan tenang. Jawaban: berdebat (kata kerja)
____ berakhir ketika Ibu berkata, “Tidak ada TV untuk siapa pun.” Jawaban: argumen (kata benda)
Saudara laki-laki saya sangat ______ sehingga dia memperdebatkan segalanya. Jawaban: argumentatif (kata sifat)
Mereka ______ tentang film mana yang akan ditonton selama satu jam. Jawaban: diperdebatkan (kata kerja lampau)
Dia membuat ______ yang kuat untuk pergi ke taman. Jawaban: argumen (kata benda)
Cobalah untuk tidak ______ saat Anda lelah. Jawaban: berdebat (kata kerja)
Orang yang ______ dapat sulit untuk diajak hidup bersama. Jawaban: argumentatif (kata sifat)
Para siswa ______ atas pizza terakhir. Jawaban: diperdebatkan (kata kerja)
______ diselesaikan dengan undian koin. Jawaban: argumen (kata benda)
Tidak apa-apa untuk ______ dengan hormat selama Anda mendengarkan. Jawaban: berdebat (kata kerja)
Setelah latihan, tanyakan satu pertanyaan kepada anak Anda. Apakah kata ini merupakan tindakan tidak setuju, ketidaksepakatan, orang yang suka tidak setuju, atau tindakan ketidaksepakatan di masa lalu? Pertanyaan sederhana itu mengajarkan tata bahasa melalui penyelesaian konflik.
Tips untuk Orang Tua – Bantu Anak Anda Mempelajari Keluarga Kata dengan Cara yang Menyenangkan Gunakan pilihan untuk mengajar “berdebat”. Katakan “Jangan berdebat tentang sereal. Anda bisa mendapatkan yang Anda inginkan.”
Gunakan ketidaksepakatan untuk mengajar “argumen”. Katakan “Kami berdebat tentang waktu tidur, lalu kami membuat kompromi.”
Gunakan kepribadian untuk mengajar “argumentatif”. Katakan “Beberapa orang secara alami argumentatif. Mereka suka berdebat.”
Gunakan memori untuk mengajar “diperdebatkan”. Katakan “Ingat ketika kita berdebat tentang siapa yang meninggalkan tutup pasta gigi?”
Mainkan “isi bagian yang kosong” selama perjalanan mobil. Katakan “Jangan ______ dengan adikmu. Berbaik hatilah.” (berdebat) Katakan “______ membutuhkan dua sisi.” (argumen) Katakan “Orang yang ______ sering menyela orang lain.” (argumentatif) Katakan “Kami ______ tentang rasa es krim terbaik.” (diperdebatkan)
Bacalah sebuah cerita tentang dua teman yang tidak setuju dan kemudian berbaikan. Tanyakan “Apa argumennya?” Tanyakan “Bagaimana mereka berhenti berdebat?”
Ubah aktivitas menggambar menjadi pelajaran kata. Gambar dua orang dengan gelembung ucapan yang saling menunjuk. Beri label “berdebat”. Gambar garis putus-putus di antara mereka. Beri label “argumen”. Gambar seseorang dengan mulut besar. Beri label “argumentatif”. Gambar kalender dengan tanda centang. Beri label “diperdebatkan kemarin”.
Saat anak Anda melakukan kesalahan, tetap tenang. Jika mereka berkata “Saya punya argumen,” katakan “Hampir. Saya punya argumen. Berdebat adalah kata kerjanya.” Jika mereka berkata “Dia sangat argumen,” katakan “Hampir. Dia sangat argumentatif. Argumen adalah kata bendanya.”
Tuliskan keempat kata tersebut di catatan tempel. Letakkan di dinding dekat sudut yang tenang. Setiap kali Anda menyelesaikan konflik, tunjuk “argumen” dan bicarakan tentang bagaimana akhirnya.
Ingatlah bahwa berdebat bisa jadi produktif. Gunakan kata-kata ini untuk mengajarkan rasa hormat. “Tidak apa-apa untuk berdebat jika Anda menggunakan fakta dan mendengarkan.” “Nada argumentatif dapat menyakiti perasaan.” Segera anak Anda akan tahu bagaimana berdebat secara adil. Mereka akan menyatakan argumen dengan alasan. Mereka akan menghindari bersikap terlalu argumentatif. Dan mereka akan mengingat apa yang mereka perdebatkan dan belajar darinya. Itulah kekuatan hormat dari mempelajari satu keluarga kata kecil bersama-sama.

