Mengapa Anak Gagal Terkadang, Merasakan Kegagalan, Belajar dari Kegagalan, dan Berkembang Setelah Mencoba yang Gagal?

Mengapa Anak Gagal Terkadang, Merasakan Kegagalan, Belajar dari Kegagalan, dan Berkembang Setelah Mencoba yang Gagal?

Game Seru + Cerita Menarik = Anak-anak Senang Belajar! Unduh Sekarang

Tidak ada yang suka gagal. Tetapi semua orang mengalaminya. Anak-anak menjatuhkan gelas. Mereka gagal mencapai tujuan. Mereka lupa jawaban. Momen-momen ini terasa sulit. Namun mereka mengajarkan kita banyak hal.

Keluarga kata “gagal, kegagalan, gagal, gagal” membantu kita berbicara tentang momen-momen ini. Bukan dengan rasa malu. Dengan kejujuran. Dengan harapan.

Artikel ini membantu orang tua dan anak-anak melihat kegagalan sebagai sebuah langkah. Bukan sebuah pemberhentian. Kita akan menjelajahi bagaimana satu kata kerja tumbuh menjadi kata benda dan kata sifat. Kita belajar bersama.

Mari kita mulai dengan kebaikan. Dan melihat apa arti kata-kata ini sebenarnya.

Apa Maksud dari “Kata yang Sama, Bentuk yang Berbeda”?

Akar katanya berarti “ketinggalan” atau “tidak berhasil.” Tetapi ketinggalan tidak berarti berakhir. Itu berarti mencoba lagi.

Masing-masing bentuk melakukan pekerjaan yang berbeda. “Gagal” adalah kata kerja. Itu menunjukkan tindakan. “Kegagalan” adalah kata benda. Itu menamai peristiwa atau perasaan. “Gagal” bisa menjadi kata benda atau kata sifat. “Gagal” adalah bentuk lampau atau kata sifat.

Anak Anda tahu keluarga seperti “bermain, pemain, bermain.” Ini bekerja dengan cara yang sama. Hanya di sini kita berbicara tentang momen-momen sulit. Tidak apa-apa. Kita bisa menyebut hal-hal yang sulit.

Kata Ganti Orang Mengubah Bentuknya

Kata kerja berubah dengan kata ganti. “Gagal” mengikuti polanya. “Saya gagal. Dia gagal. Dia gagal. Mereka gagal.”

Huruf “s” kecil pada “gagal” cocok dengan dia, dia, atau itu. Anak-anak mendengarnya secara alami.

“Gagal” tetap sama untuk semua kata ganti. “Saya gagal. Kamu gagal. Kami gagal.” Mudah.

“Gagal” juga tetap sama. “Saya sedang gagal. Dia sedang gagal. Mereka sedang gagal.”

“Kegagalan” adalah kata benda. Itu tidak berubah untuk kata ganti. “Kegagalan saya. Kegagalanmu. Kegagalannya.” Hanya jumlah yang berubah. Satu kegagalan. Banyak kegagalan.

Dari Kata Kerja ke Kata Benda ke Kata Sifat ke Kata Keterangan – Satu Keluarga, Banyak Kata

Keluarga ini tidak memiliki kata keterangan. Tetapi kita masih bisa melihat pertumbuhannya.

“Gagal” – kata kerja. Menunjukkan upaya tanpa keberhasilan. “Saya mungkin gagal dalam ujian ini.”

“Kegagalan” – kata benda. Menamai kurangnya keberhasilan. “Kegagalan itu mengajari saya sesuatu.”

“Gagal” – kata benda atau kata sifat. Sebagai kata benda: “Kegagalannya yang terbesar adalah kurang sabar.” Sebagai kata sifat: “Mesin yang gagal kehilangan tenaga.”

“Gagal” – kata kerja lampau atau kata sifat. Sebagai kata kerja: “Kami gagal kemarin.” Sebagai kata sifat: “Upaya yang gagal berakhir dengan cepat.”

Lihat bagaimana satu akar membawa ide yang sama? Tidak berhasil. Tetapi juga tidak berhenti.

Satu Akar, Banyak Peran – Bagaimana Kata-Kata Tumbuh dari Tindakan Menjadi Kualitas

Dari kata kerja “gagal,” kita membuat kata benda “kegagalan” dengan menambahkan “-an.” Sufiks ini mengubah tindakan menjadi nama. “Tekan” menjadi “tekanan.” “Gagal” menjadi “kegagalan.”

Kita membuat “gagal” dengan menambahkan “-ing.” Ini bisa menjadi kata benda atau kata sifat. “Gagal” menamai kelemahan. Atau menggambarkan sesuatu yang berhenti berfungsi.

Kita membuat “gagal” dengan menambahkan “-ed.” Ini menunjukkan waktu lampau. Atau mengubah kata kerja menjadi kata sifat. “Ujian yang gagal” berarti ujian yang tidak lulus.

Fokus pertama pada “gagal” dan “gagal.” Anak-anak kecil memahami “Saya gagal” lebih dari “kegagalan.” Perkenalkan “kegagalan” dengan lembut. Simpan “gagal” sebagai kata benda untuk anak-anak yang lebih besar.

Makna yang Sama, Pekerjaan yang Berbeda – Apakah Itu Kata Kerja atau Kata Benda?

Mari kita periksa pekerjaan masing-masing kata dalam sebuah kalimat.

“Gagal” – hanya kata kerja. “Saya akan gagal jika saya tidak belajar.” Tanya: Bisakah saya melakukannya? Ya. Jadi itu adalah kata kerja.

“Kegagalan” – hanya kata benda. “Proyek ini adalah kegagalan.” Tanya: Bisakah saya menamainya atau menunjuknya? Peristiwa itu. Ya. Jadi itu adalah kata benda.

“Gagal” – kata benda atau kata sifat. “Kegagalannya adalah keterlambatan.” Kata benda. “Cahaya yang gagal membuatnya gelap.” Kata sifat. Tanya: Apakah itu menggambarkan kata benda (cahaya)? Ya. Jadi kata sifat di sini.

“Gagal” – kata kerja atau kata sifat. “Mereka gagal dalam ujian.” Kata kerja. “Eksperimen yang gagal masuk ke tempat sampah.” Kata sifat. Tanya: Apakah itu terjadi sebelumnya? Kata kerja. Apakah itu menggambarkan kata benda? Kata sifat.

Ajari anak Anda untuk bertanya “Bisakah saya melakukannya?” Itu memecahkan sebagian besar kasus.

Kata Sifat dan Kata Keterangan – Kapan Kita Menambahkan -ly?

Kita dapat menambahkan -ly ke “gagal” untuk membuat “gagal-ly.” Itu sangat jarang. Jangan ajarkan itu.

Bisakah kita menambahkan -ly ke “gagal”? Tidak. Itu tidak berhasil.

Fokus pada bentuk utama. “Gagal, kegagalan, gagal, gagal.” Keempat hal ini mencakup hampir semua yang dibutuhkan anak kecil.

Untuk anak-anak yang lebih besar, Anda dapat menyebutkan “failingly” sebagai kata yang aneh. Tetapi percakapan sehari-hari tidak pernah menggunakannya.

Waspadalah terhadap Perubahan Ejaan yang Rumit (Huruf Ganda, y ke i, dan Lainnya)

“Gagal” – sederhana. G A G A L.

“Gagal” – tambahkan -ed. Pertahankan semuanya. “Gagal” + “ed” = “gagal.” Tidak ada huruf ganda.

“Gagal” – tambahkan -ing. Pertahankan semuanya. “Gagal” + “ing” = “gagal.” Tidak ada huruf ganda. Tidak ada huruf yang hilang.

“Kegagalan” – tambahkan -ure. Pertahankan semuanya. “Gagal” + “ure” = “kegagalan.” Tidak ada perubahan. “u” berasal dari bahasa Latin. Eja saja sebagai satu kata.

Aturan utamanya: tidak ada perubahan yang rumit. Semua bentuk mempertahankan kata lengkap “gagal.” Itu membuat belajar menjadi mudah.

Mari Berlatih – Bisakah Anda Memilih Bentuk yang Tepat?

Coba kalimat-kalimat ini dengan anak Anda. Isi setiap bagian yang kosong. Gunakan gagal, kegagalan, gagal, atau gagal.

Kemarin saya _____ untuk mengikat tali sepatu saya untuk pertama kalinya. Lalu saya mencoba lagi.

Jangan takut untuk _____. Semua orang membuat kesalahan.

Bagian _____ dari mainan itu adalah penutup baterai. Itu terus-menerus lepas.

Kalah dalam permainan terasa seperti sebuah _____. Tapi kami mempelajari keterampilan baru.

Jawaban:

gagal (tindakan lampau – sudah terjadi)

gagal (kata kerja – tindakan sekarang atau mendatang)

gagal (kata sifat – menggambarkan bagian)

kegagalan (kata benda – menamai peristiwa atau perasaan)

Bacalah kalimat-kalimat itu dengan lantang. Tanyakan mengapa setiap jawaban cocok. Biarkan anak Anda menjelaskan. Itu membangun kepercayaan diri.

Sekarang mainkan permainan sederhana. Tumpuk tiga balok. Cobalah untuk menumpuk empat. Ketika jatuh, katakan “Saya gagal saat itu.” Lalu “Itu adalah sebuah kegagalan.” Lalu “Menara yang gagal itu terbalik.” Gunakan semua bentuk.

Tips untuk Orang Tua – Bantu Anak Anda Mempelajari Keluarga Kata dengan Cara yang Menyenangkan

Mulai dengan kegagalan kecil yang aman. Potongan puzzle yang tidak cocok. Gambar yang ternoda. Katakan “Kamu gagal memasang potongan itu. Coba yang lain.” Jaga suara Anda tetap ringan.

Jangan pernah menghukum kegagalan. Pujilah usahanya. “Kamu sudah berusaha keras. Itu bagus. Sekarang mari kita lihat mengapa itu gagal.”

Bacalah buku tentang kegagalan terkenal. Thomas Edison mencoba banyak bola lampu. Dia berkata “Saya menemukan 10.000 cara yang gagal.” Bagikan cerita itu. Itu membantu.

Mainkan “Permainan Ups.” Sengaja gagal dalam sesuatu yang kecil. Jatuhkan sendok. Katakan “Saya gagal menangkapnya.” Tertawa. Anak Anda belajar bahwa kegagalan adalah hal yang wajar.

Gunakan seni. Gambarlah “Monster Kegagalan.” Beri dia tiga mata dan rambut berantakan. Katakan “Monster ini mengunjungi ketika kita gagal. Tapi kita tidak takut.” Menamai ketakutan menghilangkan kekuatannya.

Tuliskan “Kegagalan Hari Ini” di papan tulis kecil. “Saya gagal membuka toples.” “Kamu gagal menangkap bola.” Lalu tulis “Apa yang saya pelajari.” “Perlu tangan yang lebih kuat.” “Perlu tangan yang lebih cepat.” Ini membangun pola pikir pertumbuhan.

Rayakan ketika anak Anda menggunakan bentuk apa pun dengan benar. Jika mereka berkata “Saya gagal,” katakan “Kata yang bagus! Dan sekarang kamu mencoba lagi.” Jika mereka berkata “Itu adalah sebuah kegagalan,” angguk dan tanyakan “Selanjutnya apa?”

Jangan terlalu melindungi dari kegagalan. Biarkan anak Anda berjuang sedikit. Mengikat tali sepatu. Menuangkan susu. Memecahkan teka-teki. Kegagalan kecil membangun ketahanan. Terlalu banyak bantuan membangun ketakutan.

Gunakan “gagal” sebagai kata benda yang lembut. “Satu-satunya kegagalanmu adalah terburu-buru.” Ucapkan dengan lembut. Lalu tawarkan bantuan. “Mari kita berlatih memperlambat.”

Suatu malam, bagikan kegagalan Anda sendiri. “Hari ini saya gagal menelepon Nenek. Saya merasa tidak enak. Besok saya akan mencoba lagi.” Anak Anda melihat bahwa bahkan orang dewasa pun gagal. Dan terus berjalan.

Ingat perbedaan antara gagal dan menjadi kegagalan. Tidak ada anak yang gagal. Mereka hanya gagal dalam suatu tugas. Kata-kata itu penting. Pilihlah dengan hati-hati.

Teruslah belajar dengan lembut. Jaga keberanian tetap tinggi. Dan teruslah mencoba bersama. Setiap percobaan yang gagal adalah langkah menuju kesuksesan.

Segera anak Anda akan berkata “Saya gagal, tetapi saya akan mencoba lagi” dengan suara yang kuat. Mereka akan tahu bahwa kegagalan bukanlah akhir. Itu adalah seorang guru. Dan Anda memberi mereka kebijaksanaan itu.