Puisi Asli:
Selamat tinggal pada cahaya bintang dalam whiskey,
Selamat tinggal pada sinar matahari dalam bir.
Alkohol membuatku sombong dan ceria
Tapi mengkhawatirkan pria di cermin.
Selamat malam pada cahaya bulan dalam brandy,
Selamat tinggal pada kehangatan anggur.
Aku rasa aku akhirnya bisa menerima diriku
Tanpa segelas atau stein.
Selamat tinggal pada balsem dalam vodka,
Selamat tinggal pada menthol dalam gin.
Aku berusaha melakukan apa yang seharusnya,
Menolak obat ular itu.
Aku tidak akan merindukan pingsan dan muntah,
Kecelakaan dan penyesalan.
Jika aku bisa menjauh dari alkohol murahan,
Mungkin masih ada harapan untukku.
Selamat tinggal pada Tuhan dalam botol,
Pada kebohongan rum dan vermouth.
Biarkan aku memuaskan dahagaku dengan air
Dan kebenaran yang manis dan transparan.
Penjelasan dan Interpretasi Puisi
Puisi yang menyentuh ini menggunakan minuman beralkohol sebagai metafora untuk mengeksplorasi perjuangan pembicara dengan minum dan keinginan mereka untuk berhenti. Setiap bait mengucapkan selamat tinggal pada berbagai jenis alkohol—whiskey, bir, brandy, anggur, vodka, gin, rum, dan vermouth—melambangkan tekad pembicara untuk meninggalkan daya tarik dan kenyamanan palsu yang pernah mereka temukan dalam minuman ini.
Puisi ini dibuka dengan nada nostalgia namun penuh penyesalan, mengakui bagaimana alkohol pernah membuat pembicara merasa percaya diri dan hidup.
















