Apa Maksud dari Ungkapan-ungkapan Ini?
“Jangan berteriak” dan “bicaralah pelan” sama-sama memberi tahu anak untuk merendahkan volume suaranya. Keduanya mengajarkan anak untuk menggunakan nada yang lebih tenang dan ramah di telinga orang lain. Anak-anak mendengar kata-kata ini di perpustakaan, restoran, atau saat berdebat. Keduanya mengajarkan penggunaan suara yang lembut di dalam ruangan.
“Jangan berteriak” berarti berhenti menggunakan suara yang keras dan memaksa. Ini langsung dan jelas. Orang tua mengatakannya ketika seorang anak berteriak di seberang rumah. Ini adalah perintah negatif.
“Bicaralah pelan” berarti gunakan suara yang lembut dan tenang. Ini lebih lembut dan lebih positif. Orang tua mengatakannya ketika seorang anak bersemangat di dalam ruangan. Ini memberi tahu anak apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
Ungkapan-ungkapan ini tampak serupa. Keduanya meminta suara yang lebih tenang. Keduanya mengajarkan rasa hormat terhadap telinga orang lain. Tetapi yang satu adalah perintah negatif sementara yang lain adalah instruksi positif.
Apa Perbedaannya?
Yang satu menyuruh Anda untuk berhenti. Yang satu memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. “Jangan berteriak” memberi tahu anak apa yang tidak boleh dilakukan. Ini cepat dan efektif. Ini berfungsi dengan baik untuk koreksi langsung.
“Bicaralah pelan” memberi tahu anak apa yang harus dilakukan. Ini positif dan instruktif. Ini mengajarkan perilaku yang diinginkan. Ini lebih lembut dan seringkali lebih efektif dari waktu ke waktu.
Pikirkan seorang anak yang berteriak di restoran. “Jangan berteriak” menghentikan kebisingan. “Bicaralah pelan, tolong” mengajarkan keterampilan. Yang satu adalah rambu berhenti. Yang satu adalah tangan penuntun.
Yang satu untuk koreksi cepat. Yang lain untuk mengajar. “Jangan berteriak” adalah untuk saat ini. “Bicaralah pelan” adalah untuk pelajaran. Gunakan yang pertama untuk keadaan darurat. Gunakan yang kedua untuk mengajar.
Juga, “bicaralah pelan” terdengar lebih baik. Anak-anak merespons lebih baik terhadap instruksi positif. “Jangan berteriak” bisa terasa seperti kritik. “Bicaralah pelan” terasa seperti pelatihan.
Kapan Kita Menggunakan Masing-masing?
Gunakan “jangan berteriak” untuk koreksi volume yang mendesak dan segera. Gunakan itu ketika suara keras anak mengganggu. Gunakan itu di tempat-tempat sepi seperti perpustakaan atau teater. Itu cocok untuk perbaikan cepat.
Contoh di rumah: “Jangan berteriak. Adikmu sedang tidur.” “Jangan berteriak di seberang rumah. Kemarilah dan bicara.” “Jangan berteriak pada adikmu. Gunakan suara yang tenang.”
Gunakan “bicaralah pelan” untuk pengajaran dan bimbingan positif. Gunakan itu ketika Anda ingin mencontoh komunikasi yang lembut. Gunakan itu untuk mencegah berteriak sebelum dimulai. Itu cocok untuk momen pengajaran.
Contoh untuk kelembutan: “Bicaralah pelan, tolong. Kita berada di perpustakaan.” “Ingatlah untuk berbicara pelan di meja makan.” “Bicaralah pelan agar semua orang merasa tenang.”
Anak-anak membutuhkan kedua frasa tersebut. “Jangan berteriak” untuk berhenti cepat. “Bicaralah pelan” untuk mempelajari kebiasaan. Keduanya mengarah pada suara yang lebih tenang.
Contoh Kalimat untuk Anak-anak Jangan berteriak: “Jangan berteriak. Aku di sini.” “Jangan berteriak di restoran. Gunakan suaramu yang tenang.” “Jangan berteriak saat kamu marah. Tarik napas dulu.”
Bicaralah pelan: “Bicaralah pelan agar bayi bisa tidur.” “Bicaralah pelan. Kami tidak ingin mengganggu tetangga.” “Bicaralah pelan saat kamu memberitahuku sebuah rahasia.”
Perhatikan “jangan berteriak” menghentikan suatu perilaku. “Bicaralah pelan” memulai suatu perilaku. Anak-anak mempelajari keduanya. Yang satu untuk berhenti. Yang satu untuk memulai.
Orang tua dapat menggunakan keduanya. Anak yang berteriak: “jangan berteriak.” Sebelum keluar: “ingatlah untuk berbicara pelan di dalam.” Anak-anak mempelajari aturan dan keterampilannya.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari Beberapa orang tua hanya mengatakan “jangan berteriak.” Itu menghentikan kebisingan tetapi tidak mengajarkan suara yang tenang. Tambahkan “bicaralah pelan” untuk menunjukkan kepada anak apa yang harus dilakukan. Instruksi positif bekerja lebih baik.
Salah: “Jangan berteriak!” (anak diam tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan). Lebih baik: “Jangan berteriak. Bicaralah pelan, seperti ini.” (mencontohkan suara lembut).
Kesalahan lain: mengatakan “bicaralah pelan” ketika anak terlalu jauh. Jika anak berada di seberang rumah, mereka perlu datang lebih dekat, bukan berbicara pelan. Katakan “kemarilah dan bicaralah pelan” sebagai gantinya.
Salah: “Bicaralah pelan” (anak berjarak 30 kaki). Lebih baik: “Kemarilah dan beri tahu aku dengan tenang.”
Beberapa pelajar lupa bahwa orang dewasa perlu mencontoh suara lembut. Jangan berteriak pada seorang anak untuk “berbicara pelan.” Pimpin dengan memberi contoh. Rendahkan suaramu sendiri terlebih dahulu. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat.
Juga hindari mengatakan “jangan berteriak” dengan suara yang berteriak. Itu membingungkan. Ucapkan dengan suara yang tenang dan lembut. Contohkan perilaku yang ingin Anda lihat.
Tips Memori yang Mudah Pikirkan “jangan berteriak” sebagai rambu berhenti merah. Rambu tersebut menghentikan suara keras. Cepat dan jelas. Untuk koreksi langsung.
Pikirkan “bicaralah pelan” sebagai jari ke bibir. Ssst. Tenang sekarang. Lembut dan mengajar. Untuk mempelajari kebiasaan.
Trik lainnya: ingatlah nada suaranya. “Jangan berteriak” adalah untuk keadaan darurat. “Bicaralah pelan” adalah untuk kebaikan sehari-hari. Keadaan darurat mendapat “jangan berteriak.” Kebaikan mendapat “bicaralah pelan.”
Orang tua dapat mengatakan: “Berteriak untuk ledakan keras. Pelan untuk masa lalu yang lembut.” Itu berarti anak yang berteriak mendapat “jangan berteriak.” Mengajarkan suara yang tenang mendapat “bicaralah pelan.”
Berlatih di rumah. Anak berteriak: “jangan berteriak.” Sebelum menonton film: “ingatlah untuk berbicara pelan di teater.” Dua momen tenang yang berbeda.
Waktu Latihan Cepat Mari kita coba latihan kecil. Pilihlah frasa yang lebih baik untuk setiap situasi.
Seorang anak berteriak di seberang rumah untuk meminta camilan. Orang tua ingin menghentikan teriakan tersebut. a) “Bicaralah pelan di seberang rumah.” b) “Jangan berteriak. Kemarilah dan beri tahu aku apa yang kamu inginkan.”
Seorang orang tua sedang mengajari seorang anak bagaimana berperilaku di perpustakaan sebelum mereka tiba. a) “Jangan berteriak saat kita sampai di sana.” b) “Bicaralah pelan di perpustakaan. Gunakan suaramu yang tenang.”
Jawaban: 1 – b. Teriakan langsung membutuhkan “jangan berteriak” secara langsung. 2 – b. Mengajar sebelumnya cocok dengan “bicaralah pelan” yang positif.
Isi bagian yang kosong: “Ketika anakku berteriak di dalam mobil, aku berkata ______.” (“Jangan berteriak” adalah koreksi langsung dan jelas.)
Satu lagi: “Ketika kita berlatih pergi ke restoran di rumah, aku mengingatkan anakku untuk ______ di dalam.” (“Bicaralah pelan” cocok dengan instruksi positif dan pengajaran.)
Suara lembut adalah suara yang baik. “Jangan berteriak” menghentikan kebisingan. “Bicaralah pelan” memulai kebaikan. Ajarkan anakmu keduanya. Seorang anak yang berbicara pelan adalah seorang anak yang didengar.
Ringkasan “Jangan berteriak” adalah perintah langsung untuk menghentikan teriakan keras dan memaksa. “Bicaralah pelan” adalah instruksi positif untuk menggunakan suara yang lembut dan tenang sebagai gantinya. Gunakan “jangan berteriak” untuk koreksi langsung saat itu juga. Gunakan “bicaralah pelan” untuk mengajar dan mencontohkan komunikasi yang lembut. Kedua frasa tersebut menciptakan rumah yang lebih tenang. Suara lembut berbicara lebih keras daripada teriakan.

