Apa Maksud dari Ungkapan Ini?
“Katakan tolong” dan “gunakan kata ajaib” sama-sama mengingatkan anak untuk meminta sesuatu dengan sopan. Mereka mengajarkan bahwa menambahkan kata yang baik membuat permintaan lebih lembut dan hormat. Anak-anak mendengar kata-kata ini ketika meminta camilan, giliran, atau bantuan. Keduanya membangun kesopanan.
“Katakan tolong” berarti tambahkan kata “tolong” ke permintaan Anda. Ini langsung dan jelas. Seorang orang tua mengatakannya ketika seorang anak berkata “Berikan itu padaku.” Ini mengajarkan kata tertentu.
“Gunakan kata ajaib” berarti ucapkan kata khusus yang membuat orang ingin membantu Anda. Ini menyenangkan dan tidak langsung. Seorang orang tua mengatakannya ketika seorang anak menuntut sesuatu. Ini mengajarkan konsep bahasa yang sopan.
Ungkapan-ungkapan ini tampak serupa. Keduanya meminta kesopanan. Keduanya mengubah tuntutan menjadi permintaan. Tetapi yang satu menyebutkan kata itu sementara yang lain menyebutkan konsepnya.
Apa Perbedaannya?
Yang satu menyebutkan kata yang sebenarnya. Yang satu menyebutkan gagasan tentang kata ajaib.
“Katakan tolong” itu spesifik. Anak tahu persis kata apa yang harus diucapkan. Ini untuk mengajarkan kata itu sendiri.
“Gunakan kata ajaib” adalah sebuah petunjuk. Anak harus ingat bahwa “tolong” adalah kata ajaib. Ini untuk berlatih setelah kata itu dipelajari. Ini menyenangkan dan seru.
Pikirkan tentang seorang anak yang belajar sopan santun. Pertama kali: “Katakan tolong” mengajarkan kata itu. Setelah mereka mengetahuinya: “Gunakan kata ajaib” mengingatkan mereka. Yang satu mengajar. Yang satu mendorong.
Yang satu untuk pemula. Yang lain untuk latihan.
“Katakan tolong” untuk balita yang sedang belajar kata itu. “Gunakan kata ajaib” untuk anak prasekolah yang sudah tahu tetapi lupa. Gunakan yang pertama untuk mengajar. Gunakan yang kedua untuk pengingat.
Juga, “kata ajaib” membuat kesopanan terasa seperti permainan. Anak-anak menyukai permainan. Ini mengubah tugas menjadi tantangan. Ini bekerja dengan baik untuk anak-anak kecil.
Kapan Kita Menggunakan Masing-Masing?
Gunakan “katakan tolong” untuk mengajarkan kata itu. Gunakan itu dengan balita yang belajar sopan santun untuk pertama kalinya. Gunakan itu ketika seorang anak memberikan permintaan langsung. Ini cocok untuk pembelajaran awal.
Contoh di rumah:
“Katakan tolong saat kamu meminta susu.” “Jangan hanya berkata ‘berikan padaku.’ Katakan tolong.” “Bisakah kamu mengatakan tolong? Itulah cara yang baik.”
Gunakan “gunakan kata ajaib” untuk pengingat yang menyenangkan. Gunakan itu dengan anak-anak yang sudah tahu “tolong.” Gunakan itu untuk mendorong tanpa memberi ceramah. Ini cocok untuk pengingat yang lembut.
Contoh untuk pengingat:
“Apa kata ajaibnya?” (anak berkata tolong) “Gunakan kata ajaib dan saya akan membantumu.” “Kamu lupa kata ajaibnya. Coba lagi.”
Anak-anak membutuhkan kedua frasa tersebut. “Katakan tolong” untuk belajar. “Gunakan kata ajaib” untuk latihan yang menyenangkan. Keduanya membangun anak-anak yang sopan.
Contoh Kalimat untuk Anak-Anak
Katakan tolong:
“Katakan tolong saat kamu meminta kue.” “Kamu mau bantuanku? Katakan tolong dulu.” “Katakan tolong. Begitulah cara kita meminta dengan baik.”
Gunakan kata ajaib:
“Gunakan kata ajaib dan saya akan menuangkan jusnya.” “Apa kata ajaibnya? Lalu kamu bisa dapat giliran.” “Ingat kata ajaibnya? Coba lagi.”
Perhatikan “katakan tolong” adalah pengajaran langsung. “Gunakan kata ajaib” adalah dorongan yang menyenangkan. Anak-anak belajar keduanya. Satu untuk pelajaran. Satu untuk permainan.
Orang tua dapat menggunakan keduanya. Balita: “katakan tolong.” Anak prasekolah: “gunakan kata ajaib.” Anak-anak mempelajari kata dan kesenangannya.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Beberapa orang tua mengatakan “katakan tolong” tetapi tidak menunggu anak untuk mengatakannya. Jika Anda meminta tolong, tunggulah. Jangan menyerah pada tuntutan tersebut. Konsistensi mengajarkan kebiasaan.
Salah: “Katakan tolong” (menyerahkan kue tanpa menunggu). Benar: “Katakan tolong” (menunggu anak mengatakannya, lalu memberikan kue).
Kesalahan lain: menggunakan “gunakan kata ajaib” sebelum anak tahu kata itu. Seorang balita tidak akan tahu kata apa yang ajaib. Ajarkan “tolong” dulu. Lalu mainkan permainan kata ajaib.
Salah: “Gunakan kata ajaib” (kepada anak berusia 2 tahun yang tidak mengetahuinya). Lebih baik: “Katakan tolong. Itulah kata ajaibnya.”
Beberapa pelajar lupa bahwa “tolong” berfungsi di mana saja, tidak hanya di rumah. Ajarkan anak Anda untuk mengatakan tolong di sekolah, toko, dan rumah teman. Kesopanan adalah untuk semua tempat.
Juga hindari memaksa “tolong” dengan suara yang jahat. “Katakan TOLONG!” berteriak tidak sopan. Ucapkan dengan baik. Model nada yang Anda inginkan. Kata-kata yang baik membutuhkan suara yang baik.
Tips Memori Mudah
Pikirkan “katakan tolong” sebagai guru yang menunjuk. Guru menunjuk kata di papan tulis. Instruksi langsung. Untuk belajar.
Pikirkan “gunakan kata ajaib” sebagai kedipan mata. Kedipan mata itu mengatakan “kamu tahu apa yang harus dilakukan.” Dorongan yang menyenangkan. Untuk mengingatkan.
Trik lain: ingat tahapannya. “Katakan tolong” untuk pemula. “Kata ajaib” untuk mereka yang tahu. Pemula mendapat “katakan tolong.” Orang yang tahu mendapat “kata ajaib.”
Orang tua dapat mengatakan:
“Tolong untuk pelajaran. Ajaib untuk sesi menebak.”
Itu berarti pengajaran mendapat “katakan tolong.” Dorongan yang menyenangkan mendapat “gunakan kata ajaib.”
Latihan di rumah.
Balita menuntut: “katakan tolong.” Anak prasekolah lupa: “apa kata ajaibnya?” Dua anak yang sopan. Satu rumah yang bahagia.
Waktu Latihan Cepat
Mari kita coba latihan kecil.
Pilih frasa yang lebih baik untuk setiap situasi.
Seorang anak berusia 2 tahun berkata “Berikan aku jus!” Orang tua sedang mengajarkan sopan santun untuk pertama kalinya. a) “Gunakan kata ajaib.” b) “Katakan tolong. Bisakah kamu mengatakan ‘jus tolong’?”
Seorang anak berusia 5 tahun berkata “Bolehkah saya minta kue?” tanpa mengatakan tolong. Mereka tahu aturannya. a) “Katakan tolong.” b) “Apa kata ajaibnya?”
Jawaban:
1 – b. Seorang balita yang belajar membutuhkan “katakan tolong” secara langsung. 2 – b. Anak yang lebih besar yang tahu aturan membutuhkan dorongan yang menyenangkan “kata ajaib.”
Isi bagian yang kosong:
“Ketika balita saya menuntut alih-alih meminta, saya mengatakan ______.”
(“Katakan tolong” adalah frasa pengajaran langsung untuk pelajar muda.)
Satu lagi:
“Ketika anak prasekolah saya lupa mengatakan tolong, saya bertanya ______.”
(“Apa kata ajaibnya?” adalah dorongan yang menyenangkan.)
Tolong membuka pintu. “Katakan tolong” mengajarkan kuncinya. “Gunakan kata ajaib” membuka pintu. Ajarkan anak Anda keduanya. Seorang anak yang mengatakan tolong disambut di mana saja.
Ringkasan
“Katakan tolong” adalah pengajaran langsung untuk anak-anak yang sedang belajar kata untuk pertama kalinya. “Gunakan kata ajaib” adalah dorongan yang menyenangkan untuk anak-anak yang sudah tahu untuk mengatakan tolong. Gunakan “katakan tolong” untuk balita dan pemula. Gunakan “gunakan kata ajaib” untuk pengingat yang menyenangkan bagi anak-anak yang lebih besar. Kedua frasa tersebut membangun anak-anak yang sopan dan baik hati. Seorang anak yang mengatakan tolong membuka hati.

