Siapa Anak Nelayan Miskin yang Menulis Musik yang Menyatukan Bangsa di Tengah Perang? Kisah Selebriti: Xian Xinghai

Siapa Anak Nelayan Miskin yang Menulis Musik yang Menyatukan Bangsa di Tengah Perang? Kisah Selebriti: Xian Xinghai

Game Seru + Cerita Menarik = Anak-anak Senang Belajar! Unduh Sekarang

Siapa Anak Nelayan Miskin yang Menulis Musik yang Menyatukan Bangsa di Tengah Perang?
Xian Xinghai adalah salah satu komposer modern terbesar di Tiongkok. Ia lahir dari tahun 1905 hingga 1945. Ia tumbuh dalam kemiskinan ekstrem. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Ia bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Ia mengajarkan dirinya sendiri musik karena tidak mampu membayar les. Ia kemudian belajar di Paris dan menjadi komposer terkenal. Selama invasi Jepang ke Tiongkok, ia menulis "Yellow River Cantata." Musik ini memberi harapan bagi jutaan orang. Kisahnya menunjukkan bahwa kemiskinan tidak dapat menghentikan semangat yang gigih.

Kehidupan Awal dan Masa Kanak-Kanak
Xian Xinghai lahir pada tahun 1905 di Makau. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Ibunya membesarkannya sendirian. Mereka tinggal di sebuah perahu nelayan. Xian kecil sangat menyukai mendengarkan para nelayan bernyanyi. Suara mereka kasar tetapi kuat. Ia juga suka melihat ombak dan mendengarkan angin. Ia tidak memiliki mainan. Ia tidak memiliki buku. Ia hanya memiliki suara laut. Ia bermimpi untuk membuat musik sendiri. Ia tidak mampu membeli alat musik. Ia membuat biola sederhana dari kaleng dan bambu.

Pendidikan dan Perjalanan Belajar
Xian Xinghai hampir tidak memiliki pendidikan formal. Ia belajar membaca dari ibunya. Ia belajar menulis dengan menyalin tanda-tanda. Pada usia 7 tahun, ia pindah ke Singapura bersama ibunya. Ia bekerja sebagai buruh pada siang hari. Ia belajar di sekolah malam. Seorang guru baik hati melihat bakat musiknya. Guru tersebut memberinya pelajaran musik pertamanya. Ia belajar bermain biola dan klarinet. Pada usia 20 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Beijing. Ia kemudian belajar di Konservatori Musik Nasional Shanghai. Namun, ia menginginkan lebih. Pada tahun 1929, ia meminjam uang dan berlayar ke Prancis.

Bagaimana Mereka Menjadi Sukses?
Xian Xinghai menjadi sukses melalui ketekunan yang luar biasa. Di Paris, ia tinggal di sebuah kamar kecil yang dingin. Ia tidak punya uang untuk makanan atau pemanas. Ia bekerja sebagai pencuci piring, pelayan, dan pembersih jalan. Ia berlatih musik dalam kegelapan yang membekukan sebelum pergi bekerja. Ia menulis musik di potongan kertas. Ia belajar di Konservatori Paris. Para gurunya terkesan dengan bakat dan dedikasinya. Ia memenangkan penghargaan untuk komposisinya. Ia bisa saja tinggal di Paris. Ia bisa saja menjadi komposer terkenal di Eropa. Sebaliknya, ia kembali ke Tiongkok pada tahun 1935. Jepang telah menginvasi. Negaranya membutuhkannya.

Ide Besar dan Prestasi
Prestasi terbesar Xian Xinghai adalah "Yellow River Cantata." Ia menulisnya pada tahun 1939. Karya ini memiliki delapan gerakan. Ia menggunakan lagu-lagu rakyat, harmoni Barat, dan alat musik Tiongkok. Karya ini menggambarkan kekuatan Sungai Kuning dan penderitaan rakyat Tiongkok di bawah invasi. Gerakan yang paling terkenal adalah "Lagu Para Nelayan Sungai Kuning." Ia dimulai dengan suara rendah dan kasar yang melantunkan seperti buruh yang menarik tali. Kemudian musiknya naik seperti ombak. Ia diakhiri dengan teriakan perlawanan. Cantata ini dipentaskan untuk tentara dan pengungsi. Ia memberi mereka harapan. Ia membuat mereka merasa bersatu. Ia menjadi lagu kebangsaan perlawanan.

Tantangan dan Masa Sulit
Xian Xinghai menghadapi kemiskinan sepanjang hidupnya. Sebagai anak, ia tidak memiliki sepatu. Ia mengenakan kain compang-camping. Ia sering kelaparan. Sebagai siswa di Paris, ia membeku di kamarnya yang tidak dipanaskan. Ia pernah pingsan karena kelaparan di jalan. Ia juga menghadapi tantangan perang. Ketika Jepang menginvasi, ia melarikan diri bersama pengungsi lainnya. Ia terus mencipta musik sementara bom jatuh. Ia memimpin kelompok nyanyi di antara tentara. Ia juga menghadapi tantangan kesehatan yang buruk. Ia menderita penyakit paru-paru kronis akibat bertahun-tahun tinggal di ruangan dingin dan lembap. Pada tahun 1940, ia pergi ke Uni Soviet untuk perawatan. Perang menjebaknya di sana. Ia meninggal di Moskow pada tahun 1945 pada usia 40 tahun.

Fakta Menarik tentang Selebriti Ini
Xian Xinghai sangat menyukai mie murah dengan saus pedas. Itu adalah satu-satunya yang bisa ia beli selama bertahun-tahun. Ia juga menikmati minum air panas dengan jahe. Ia percaya itu membantu tenggorokannya. Ia tidak pernah memiliki jas. Ia mengenakan jubah Tiongkok sederhana atau pakaian pekerja Eropa. Ia menyimpan buku catatan kecil di mana ia menulis ide-ide musik. Ia mengisi puluhan buku catatan. Ia juga menyukai menonton opera Tiongkok. Ia menggabungkan melodi opera ke dalam komposisinya. Ia tidak pernah belajar mengemudikan mobil atau mengendarai sepeda. Ia berjalan ke mana-mana. Ia memelihara seekor jangkrik di dalam kandang bambu. Suaranya menginspirasi ritme-ritmenya.

Mengapa Selebriti Ini Penting Hari Ini?
"Yellow River Cantata" karya Xian Xinghai masih dipentaskan hingga hari ini. Ia dianggap sebagai salah satu karya musik Tiongkok terbesar abad ke-20. Ia telah diadaptasi menjadi konser piano, film, dan drama tari. Setiap anak Tiongkok belajar kisahnya di sekolah. Musiknya diajarkan di konservatori di seluruh Tiongkok. Ia dikenang bukan hanya sebagai komposer, tetapi juga sebagai patriot. Ia menggunakan seninya untuk melayani negaranya. Ia memilih kemiskinan dan perang daripada kenyamanan dan keamanan. Konservatori Musik Pusat di Beijing memiliki museum yang didedikasikan untuknya. Namanya terukir di aula komposer terkenal di Moskow.

Apa yang Bisa Dipelajari Anak-Anak dari Kisah Ini?
Anda bisa belajar bahwa kemiskinan tidak mendefinisikan Anda. Xian tidak memiliki apa-apa selain biola dari kaleng. Ia menjadi komposer hebat. Anda juga bisa belajar bahwa kerja keras mengalahkan bakat. Ia berlatih di ruangan yang membekukan sementara yang lain tidur. Anda bisa belajar untuk melayani komunitas Anda. Ia kembali dari Prancis untuk membantu negaranya. Anda bisa belajar bahwa seni bisa memberi harapan. Musiknya menginspirasi tentara dan pengungsi. Anda juga bisa belajar bahwa hidup yang singkat bisa berarti. Ia meninggal pada usia 40 tahun. Musiknya hidup selamanya.

Kuis Cepat atau Waktu Latihan
Mari kita lihat apa yang Anda ingat tentang Xian Xinghai.

Pertanyaan 1: Apa karya musik paling terkenal Xian Xinghai?
Jawaban: The Yellow River Cantata.

Pertanyaan 2: Alat musik apa yang dibuat Xian kecil dari kaleng dan bambu?
Jawaban: Sebuah biola sederhana.

Pertanyaan 3: Makanan apa yang sangat disukai Xian Xinghai saat ia miskin?
Jawaban: Mie murah dengan saus pedas.

Pertanyaan 4: Suara hewan peliharaan apa yang menginspirasi ritme Xian Xinghai?
Jawaban: Seekor jangkrik.

Pertanyaan 5: Di mana Xian Xinghai meninggal?
Jawaban: Moskow, Rusia.

Aktivitas: Dengarkan rekaman "Lagu Para Nelayan Sungai Kuning." Tutup mata Anda. Bayangkan Anda sedang menarik tali berat di atas perahu. Rasakan ritmenya. Dengarkan ombak. Ini adalah kekuatan musik untuk menceritakan sebuah kisah. Gambarlah gambar dari adegan yang Anda bayangkan saat mendengarkan.

Xian Xinghai bisa saja tinggal di Paris. Ia sukses di sana. Musiknya dipuji. Masa depannya cerah. Tetapi ia mendengar berita dari Tiongkok. Jepang telah menginvasi. Rakyatnya sedang sekarat. Ia mengemas barang-barangnya dan naik kapal. Ia kembali ke negara yang sedang berperang. Ia kembali ke kemiskinan. Ia kembali ke bahaya. Ia tidur di gua. Ia makan apa pun yang bisa ia temukan. Ia memimpin tentara dalam nyanyian. Ia mencipta di tempat perlindungan bom. Ia menulis "Yellow River Cantata" dalam enam hari. Musiknya menyebar seperti api. Tentara menyanyikannya sebelum bertempur. Pengungsi menyanyikannya di kamp. Anak-anak menyanyikannya di sekolah. Itu memberi mereka kekuatan. Itu memberi mereka harapan. Itu memberi mereka alasan untuk terus berjuang. Xian meninggal pada usia 40 tahun, jauh dari rumah. Ia tidak pernah melihat kemenangan. Tetapi musiknya melakukannya. Musiknya bertahan lebih lama dari perang. Bertahan lebih lama dari para penyerang. Bertahan lebih lama darinya. Kisahnya mengajarkan kita bahwa Anda tidak perlu hidup lama untuk meninggalkan warisan. Anda perlu hasrat. Anda perlu keberanian. Anda perlu melayani sesuatu yang lebih besar dari diri Anda sendiri. Xian Xinghai melakukan semua itu. Sekarang giliran Anda. Temukan Sungai Kuning Anda. Tulis cantata Anda. Nyanyikan dengan keras. Itulah cara Xian Xinghai. Itulah juga cara Anda. Sekarang pergi buat suara.