Apakah Anda pernah masuk ke kedai kopi di mana barista tahu nama Anda? Musiknya lembut. Kursinya nyaman. Anda bisa duduk berjam-jam. Itulah Starbucks. Howard Schultz yang membangunnya. Dia tidak memulainya. Dia bergabung. Lalu dia mengubahnya. Kisah Selebriti ini: Howard Schultz akan memperkenalkan Anda kepada seorang pria yang tumbuh dalam kemiskinan. Dia tinggal di proyek perumahan di Brooklyn. Dia adalah seorang anak yang bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik. Dia membangun sebuah perusahaan yang memperlakukan karyawannya dengan hormat. Dia memberikan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Dia membayar biaya kuliah mereka. Dia membuktikan bahwa bisnis bisa baik dan menguntungkan.
Mari kita bertemu dengan pria yang menjadikan kopi sebagai pengalaman global. Howard Schultz berkata, "Saya percaya hidup adalah sebuah perjalanan. Seringkali, Anda tidak yakin ke mana itu akan membawa Anda. Tapi Anda harus percaya bahwa sesuatu akan terjadi."
Siapa Selebriti Ini?
Howard Schultz adalah seorang pengusaha Amerika. Dia lahir pada tahun 1953. Dia masih hidup. Dia adalah CEO dan ketua Starbucks selama bertahun-tahun. Dia bukan pendiri. Dia adalah visioner yang mengambil sebuah toko biji kopi kecil dan mengubahnya menjadi merek global.
Mengapa dia terkenal? Dia mengubah Starbucks dari penjual biji kopi lokal menjadi jaringan kedai kopi terbesar di dunia. Dia memiliki lebih dari 30.000 toko di seluruh dunia. Dia juga membuat Starbucks terkenal karena manfaat karyawannya. Dia menawarkan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Dia juga menawarkan opsi saham dan biaya kuliah gratis. Dia adalah kandidat Demokrat untuk presiden pada tahun 2020. Dia mengundurkan diri.
Kehidupan Awal dan Masa Kanak-Kanak
Howard Schultz lahir di Brooklyn, New York. Ayahnya adalah seorang sopir truk. Dia mengemudikan truk pengantar popok. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Keluarga itu tinggal di proyek perumahan umum yang disebut Canarsie Houses.
Dia adalah anak yang pendiam. Dia pemalu. Dia menyukai olahraga. Dia bermain sepak bola dan bisbol. Dia adalah atlet yang baik. Dia memenangkan beasiswa sepak bola ke Northern Michigan University. Dia adalah orang pertama dalam keluarganya yang pergi ke perguruan tinggi.
Dia bekerja serabutan untuk membayar sekolah. Dia menjadi bartender. Dia menjual darah. Dia bekerja di pabrik. Dia lulus pada tahun 1975 dengan gelar komunikasi.
Ayahnya meninggal karena kanker paru-paru pada tahun 1977. Dia tidak pernah memiliki asuransi kesehatan. Dia tidak pernah memiliki pekerjaan yang memperlakukannya dengan martabat. Schultz bertekad untuk membangun perusahaan yang berbeda.
Pendidikan dan Perjalanan Belajar
Howard Schultz belajar di Northern Michigan University. Dia belajar komunikasi dan bisnis. Dia juga belajar untuk gigih. Dia adalah siswa yang baik. Dia lulus pada tahun 1975.
Dia mendapatkan pekerjaan di Xerox, sebuah perusahaan fotokopi. Dia adalah seorang salesman. Dia baik dalam hal itu. Dia menjual fotokopi dari pintu ke pintu. Dia belajar untuk menghadapi penolakan.
Dia kemudian pindah ke sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Mereka membuat peralatan dapur. Dia menjadi wakil presiden. Dia masih muda. Dia ambisius.
Pada tahun 1981, dia memperhatikan sesuatu yang aneh. Sebuah toko biji kopi kecil di Seattle memesan sejumlah besar mesin espresso. Lebih banyak dari Macy's. Dia penasaran. Dia terbang ke Seattle.
Dia masuk ke Starbucks. Itu adalah toko kecil. Itu menjual biji kopi dan peralatan pembuat kopi. Itu tidak menjual kopi per cangkir. Dia bertemu dengan pemiliknya. Mereka sangat mencintai kopi. Dia terpesona.
Dia memohon kepada mereka untuk mempekerjakannya. Mereka melakukannya. Dia bergabung dengan Starbucks pada tahun 1982 sebagai direktur pemasaran.
Bagaimana Mereka Menjadi Sukses?
Howard Schultz menjadi sukses dengan mengikuti visinya. Pada tahun 1983, dia melakukan perjalanan ke Italia. Dia pergi ke Milan. Dia masuk ke sebuah bar espresso. Barista tahu nama pelanggan. Tempat itu hangat dan sosial. Dia berpikir, "Inilah yang seharusnya kopi. Tempat untuk berkumpul. Tempat untuk terhubung."
Dia kembali ke Seattle. Dia memberi tahu pemilik Starbucks bahwa mereka harus menyajikan kopi per cangkir. Mereka menolak. Mereka adalah penjual biji. Mereka tidak ingin menjadi restoran.
Dia meninggalkan Starbucks. Dia memulai jaringan bar kopinya sendiri. Dia menamakannya Il Giornale, setelah sebuah surat kabar Italia. Dia mengumpulkan uang dari investor. Itu sulit. Dia ditolak 242 kali. Dia terus meminta.
Pada tahun 1987, pemilik Starbucks memutuskan untuk menjual perusahaan. Schultz mengumpulkan $3,8 juta. Dia membeli Starbucks. Dia menggabungkannya dengan Il Giornale. Dia menjadi CEO.
Dia mengembangkan perusahaan secara perlahan. Dia fokus pada kualitas. Dia fokus pada karyawan. Dia menawarkan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Dia menawarkan opsi saham. Dia menawarkan biaya kuliah gratis melalui Arizona State University.
Perusahaan itu tumbuh. Itu membuka toko di seluruh Amerika. Kemudian di seluruh dunia. Pada tahun 2022, Starbucks memiliki lebih dari 30.000 toko di 80 negara.
Ide Besar dan Prestasi
Ide terbesar Howard Schultz adalah bahwa sebuah perusahaan bisa menguntungkan dan baik. Dia memperlakukan karyawannya dengan baik. Mereka memperlakukan pelanggan dengan baik. Bisnis itu tumbuh.
Prestasi terbesarnya adalah pengalaman Starbucks. Kursi yang nyaman. Musik. Barista yang tahu nama Anda. Dia menciptakan "tempat ketiga" antara rumah dan kerja.
Prestasi besar lainnya adalah manfaat karyawannya. Dia menawarkan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Dia membayar biaya kuliah. Dia memberikan saham kepada semua karyawan. Itu jarang terjadi di industri ritel.
Dia juga menulis dua buku. "Pour Your Heart Into It" dan "Onward." Mereka tentang filosofi bisnisnya.
Dia juga memiliki tim basket Seattle SuperSonics selama beberapa tahun. Dia memindahkan mereka ke Oklahoma City. Para penggemar marah. Dia merasa buruk. Dia belajar dari pengalaman itu.
Dia juga mencoba mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020. Dia mengundurkan diri. Dia berkata dia tidak bisa menang.
Dia juga memimpin Starbucks melalui krisis bias rasial. Pada tahun 2018, dua pria kulit hitam ditangkap di Starbucks Philadelphia. Manajer toko memanggil polisi karena mereka tidak membeli apa pun. Insiden itu direkam dalam video. Itu adalah skandal. Schultz menutup semua 8.000 toko AS selama sehari untuk melatih karyawan tentang bias rasial. Dia meminta maaf secara publik.
Tantangan dan Masa Sulit
Howard Schultz menghadapi banyak tantangan. Pertama, dia tumbuh dalam kemiskinan. Dia tinggal di perumahan umum. Dia melihat ayahnya berjuang.
Kedua, dia ditolak 242 kali saat mengumpulkan uang untuk Il Giornale. Dia terus maju.
Ketiga, dia berjuang untuk membeli Starbucks. Pemilik asli tidak ingin menjual. Dia harus mengumpulkan jutaan dengan cepat.
Keempat, dia menghadapi krisis keuangan 2008. Penjualan Starbucks merosot. Dia kembali sebagai CEO untuk menyelamatkan perusahaan. Dia menutup 600 toko. Dia melatih kembali karyawan. Dia menyelamatkannya.
Kelima, dia menghadapi krisis bias rasial pada tahun 2018. Dia menanganinya dengan pelatihan dan permintaan maaf. Itu adalah titik terendah.
Fakta Menarik tentang Selebriti
Howard Schultz adalah penggemar berat tim basket New York Knicks. Dia tumbuh dengan menonton mereka.
Fakta menarik lainnya: Dia suka membaca. Dia membaca sejarah dan biografi.
Dia adalah seorang pilot. Dia menerbangkan pesawatnya sendiri.
Dia adalah seorang filantropis. Dia memberikan jutaan untuk kepentingan veteran.
Satu fakta lagi: Dia adalah yang pertama dalam keluarganya yang lulus dari perguruan tinggi.
Mengapa Selebriti Ini Penting Hari Ini?
Howard Schultz penting karena dia menunjukkan bahwa bisnis bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan. Anda tidak perlu kejam untuk sukses. Kebaikan itu berhasil.
Dia juga penting karena dia menciptakan jenis tempat kerja baru. Starbucks menetapkan standar untuk manfaat karyawan ritel.
Pengaruhnya terlihat di setiap kedai kopi. Konsep "tempat ketiga" ada di mana-mana.
Orang tua dapat menggunakan kisahnya untuk mengajarkan anak-anak tentang empati. Schultz mengingat perjuangan ayahnya. Dia membangun perusahaan yang memperlakukan pekerja dengan martabat.
Apa yang Bisa Dipelajari Anak-Anak dari Kisah Ini?
Anak-anak dapat belajar pelajaran berharga dari Howard Schultz. Pertama, bermimpilah besar. Schultz tumbuh di perumahan umum. Dia menjadi miliarder. Jangan biarkan keadaan Anda membatasi mimpi Anda.
Kedua, perlakukan orang dengan baik. Schultz memberikan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Dia membayar biaya kuliah. Jadilah baik. Itu akan terbayar.
Ketiga, jangan menyerah. Schultz ditolak 242 kali. Dia terus meminta. Teruslah mencoba.
Akhirnya, belajar dari kegagalan. Schultz membuat kesalahan. Dia memindahkan Sonics. Dia mencalonkan diri sebagai presiden dan kalah. Dia belajar. Dia melanjutkan.
Kuis Cepat atau Waktu Latihan
Mari kita lihat apa yang Anda pelajari dari Kisah Selebriti ini: Howard Schultz. Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini dengan orang tua atau sendiri.
Di perumahan apa Schultz tumbuh?
Kota mana yang dikunjungi Schultz yang menginspirasi visinya untuk Starbucks?
Berapa kali Schultz ditolak saat mengumpulkan uang untuk bar kopi pertamanya?
Manfaat tidak biasa apa yang ditawarkan Starbucks kepada pekerja paruh waktu?
Tim basket mana yang dimiliki Schultz selama beberapa tahun?
Berikut adalah aktivitas menyenangkan. Kunjungi Starbucks dengan orang tua Anda. Atau kedai kopi mana pun. Perhatikan kursinya. Dengarkan musiknya. Perhatikan barista. Pikirkan mengapa orang suka duduk di sana. Anda sedang melihat ide Howard Schultz dalam aksi.
Aktivitas lainnya. Gambarlah "tempat ketiga" Anda sendiri. Itu bisa menjadi kedai kopi. Sebuah perpustakaan. Sebuah bangku taman. Apa yang akan membuatnya nyaman? Apa yang akan membuatnya menyambut? Anda sedang merancang seperti Howard Schultz.
Howard Schultz lahir di Brooklyn. Dia tinggal di perumahan umum. Ayahnya mengemudikan truk popok. Dia tidak memiliki asuransi kesehatan. Dia meninggal muda. Schultz bertekad untuk melakukan yang lebih baik. Dia pergi ke perguruan tinggi. Dia menjual fotokopi. Dia menemukan Starbucks. Dia melakukan perjalanan ke Italia. Dia melihat bar espresso. Dia memiliki visi. Dia membeli Starbucks. Dia menawarkan asuransi kesehatan kepada pekerja paruh waktu. Dia menawarkan biaya kuliah. Dia membangun 30.000 toko. Dia mencalonkan diri sebagai presiden. Dia kalah. Dia terus maju. Kisahnya mengajarkan kita untuk bermimpi besar. Untuk memperlakukan orang dengan baik. Untuk tidak pernah menyerah. Untuk belajar dari kegagalan. Itulah pelajaran nyata dari kisah selebriti ini.

